Oleh : Erillia Sapturiansih Pengamat Politik
Pangkalpinang — Pemilihan kepala daerah adalah momen penting bagi setiap daerah, tak terkecuali Kota Pangkalpinang. Tahun ini, kota kita kembali menghadapi pemilihan ulang untuk menentukan siapa yang akan memimpin lima tahun ke depan.
Tentu saja, pesta demokrasi ini harus disambut dengan gembira, bijak, dan penuh tanggung jawab karena pemilu bukan hanya tentang siapa yang menang atau siapa yang duduk di kursi kekuasaan, tapi lebih kepada masa depan kota dan masyarakat yang akan dipimpinnya.
Di balik gegap gempita pesta demokrasi, kita harus tetap sadar bahwa suara kita menentukan arah pembangunan, kesejahteraan, dan kehidupan sosial masyarakat Pangkalpinang. Apalagi dalam situasi saat ini, di mana kota kita tengah menghadapi berbagai persoalan pelik, mulai dari dampak korupsi di sektor timah, krisis ekonomi yang menekan warga, hingga masalah sosial lain yang masih jadi pekerjaan rumah.
Pentingnya Menjadi Pemilih yang Cerdas
Di pemilu ulang kali ini, mari kita gunakan hak suara dengan penuh kesadaran. Jadilah pemilih yang cerdas, bukan hanya karena janji-janji politik sesaat, tapi melihat rekam jejak, visi-misi, serta keberpihakan calon pemimpin terhadap masyarakat. Jangan sampai kita hanya terpikat dengan gelar akademik, jargon-jargon politik, atau baliho besar di sudut-sudut kota, tanpa benar-benar memahami siapa orang di baliknya dan apa niat mereka maju.
Ingat, keputusan kita di bilik suara nanti bukan sekadar menentukan nasib hari itu saja.Tapi akan menentukan wajah Pangkalpinang selama lima tahun ke depan, bahkan lebih.
Kalau sampai salah pilih, dampaknya bisa panjang. Kita yang akan merasakan, mulai dari pembangunan yang tersendat, pelayanan publik yang buruk, hingga potensi terulangnya kasus-kasus korupsi yang selama ini jadi luka dalam kota kita.
Calon Pemimpin Tak Cukup Hanya Berpendidikan Tinggi
Ada empat figur calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang akan bersaing di pemilu ulang ini. Masing-masing tentu datang membawa program, visi-misi, dan janji untuk membuat Pangkalpinang lebih baik. Tapi mari kita lebih dalam menilai, jangan hanya terpaku pada seberapa banyak gelar akademik yang mereka sandang atau seberapa bagus penampilan mereka di atas panggung.
Kita butuh pemimpin yang benar-benar peduli. Yang mau turun ke lapangan, mendengar keluhan masyarakat kecil, mengayomi warga tanpa pandang bulu, dan berpikir jauh ke depan, bukan sekadar demi popularitas sesaat.
Pangkalpinang memerlukan pemimpin yang mampu membawa perubahan nyata, berani mengambil keputusan yang berpihak pada rakyat, serta bersih dari praktik-praktik korupsi yang selama ini menghancurkan perekonomian daerah.
Warga Berhak Bahagia Menyambut Pemilu
Pesta demokrasi seharusnya menjadi momen yang membahagiakan bagi masyarakat. Momentum di mana kita sebagai warga merasa dilibatkan dalam menentukan arah kebijakan dan kepemimpinan kota ini.
Maka, mari kita sambut pemilu ulang ini dengan suka cita, penuh harapan, dan tetap menjaga persatuan.
Jangan sampai perbedaan pilihan membuat kita terpecah belah. Jangan pula sampai ada yang saling hujat hanya karena berbeda dukungan. Karena siapa pun yang terpilih nanti, dia tetap pemimpin kita semua. Tugas kita adalah mengawasi, mendukung, sekaligus mengingatkan jika pemimpin tersebut melenceng dari amanat rakyat.
Jangan Golput, Jangan Salah Pilih
Satu hal penting yang perlu ditekankan: jangan golput. Karena memilih itu bukan sekadar hak, tapi juga kewajiban moral kita sebagai warga kota. Golput sama saja membiarkan nasib Pangkalpinang ditentukan oleh orang lain, tanpa kita ikut andil di dalamnya. Kalau nanti kecewa, kita pun tak punya hak untuk banyak mengeluh, sebab saat diberi kesempatan memilih, kita justru abai.
Di sisi lain, jangan pula asal pilih. Jangan karena iming-iming uang, sembako, atau janji proyek, lalu kita rela menggadaikan suara. Praktik money politics harus kita lawan bersama, karena itu racun bagi demokrasi. Kita perlu ingat bahwa harga suara kita tak sebanding dengan kerugian yang akan kita rasakan selama lima tahun, kalau sampai salah pilih pemimpin.
Pemilu Ulang, Biaya Tambahan dan Dampak Sosial.
Pemilu ulang tentu bukan tanpa konsekuensi. Selain secara anggaran membebani keuangan daerah dan negara, dampak sosialnya pun tak bisa diabaikan. Masyarakat jadi harus kembali ke TPS, panitia harus bekerja dua kali, dan biaya yang dikeluarkan pun bertambah. Di tengah kondisi ekonomi Pangkalpinang yang sedang sulit akibat krisis di sektor pertambangan timah dan melemahnya daya beli masyarakat, situasi ini jelas menjadi beban tambahan.
Oleh karena itu, mari kita pastikan pemilu ulang ini berjalan dengan lancar, damai, tanpa pelanggaran, dan menghasilkan pemimpin yang betul-betul amanah. Jangan sampai kita harus mengalami pemilu ulang untuk ketiga kalinya hanya karena ulah segelintir orang yang tak bertanggung jawab.
Momentum Edukasi Demokrasi Masyarakat
Pemilu ulang ini juga harus kita manfaatkan sebagai momentum edukasi politik bagi masyarakat. Seringkali, sebagian warga masih memandang pemilu hanya sebagai formalitas. Ada yang memilih asal-asalan, ada pula yang enggan datang ke TPS karena merasa tak ada perubahan berarti dari pemilu ke pemilu sebelumnya.
Inilah saatnya kita ajak keluarga, tetangga, teman-teman, untuk lebih peduli terhadap masa depan kota ini. Mulai dari memahami program para calon, ikut hadir dalam kampanye yang sehat, berdiskusi, hingga bersama-sama menjaga situasi agar tetap kondusif. Kita tunjukkan bahwa masyarakat Pangkalpinang bukan masyarakat yang mudah diadu domba, tidak bisa dibeli suaranya, dan memiliki kesadaran politik yang tinggi.
Akhir Kata: Demi Pangkalpinang yang Lebih Tersenyum
Kita semua tentu ingin melihat Pangkalpinang kembali tersenyum. Kota yang warganya hidup sejahtera, pemerintahannya bersih, ekonominya bangkit, dan masyarakatnya hidup rukun. Untuk itu, pemilu ulang ini menjadi titik penting untuk memulai langkah baru.
Mari kita jaga suasana pesta demokrasi ini tetap sehat, tanpa hoaks, tanpa fitnah, tanpa kekerasan, dan tanpa praktik politik uang. Jadilah pemilih yang cerdas, berpikir jangka panjang, dan pilihlah pemimpin dengan hati nurani, bukan karena tekanan atau iming-iming.
Ingat, suara kita adalah penentu masa depan kota ini. Gunakan sebaik-baiknya. Karena kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Demi Pangkalpinang yang lebih baik, lebih berseri, dan lebih bahagia.
Mari gunakan hak pilih kita pada 27 Agustus 2025 nanti!
Salam Demokrasi Sehat, Salam Pangkalpinang Tersenyum!





