Kurangnya Petugas Stik Nozzel , Salah Satu Penyebab Antrian Pertalite Tidak Kunjung Terurai 

oleh -98 views
oleh

Gambaran Situasi Di salah satu Pom Bensin

 

 

PANGKALPINANG, – Kesulitan masyarakat mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hingga kini masih menjadi persoalan yang belum menemukan solusi pasti. Antrean kendaraan yang panjang dan melelahkan terus terjadi, sementara masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi keresahan tersebut.

Berbagai upaya telah dilakukan. Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani bersama Ketua DPRD Babel dan pihak kepolisian bahkan telah berulang kali melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Pangkalpinang.

Namun, sidak tersebut dinilai belum memberikan perubahan yang bertahan lama. Saat petugas melakukan pemeriksaan, kondisi antrean terlihat tertib dan rapi. Akan tetapi, beberapa menit setelah sidak selesai, situasi kembali seperti semula.

Kendaraan yang diduga digunakan para pengerit BBM kembali memadati SPBU, baik kendaraan roda dua maupun roda empat.

Seperti yang terjadi pada siang hari ini, Gubernur Hidayat Arsani sempat melakukan sidak ke tujuh SPBU. Namun, menurut keluhan masyarakat, setelah kegiatan sidak berakhir, para pengerit kembali menjalankan aktivitasnya seperti biasa.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, sampai kapan persoalan antrean Pertalite harus terus berulang tanpa penyelesaian yang benar-benar dirasakan oleh konsumen?

Warga Mengaku Sulit Mendapatkan Pertalite Iwan (50), warga Gabek mengaku kesulitan mendapatkan Pertalite. Ia menilai keberadaan para pengerit menjadi salah satu faktor utama yang membuat masyarakat biasa semakin sulit memperoleh BBM bersubsidi tersebut.

“Sudah antri panjang, tetapi belum tentu kebagian Pertalite. Salah satu penyebabnya, menurutnya karena banyak pengerit yang ikut mengantri ” keluh Iwan.

Ia juga menyoroti pelayanan di bagian pengisian BBM. Menurut pengamatannya, petugas yang memegang stik atau nozzle pengisian hanya satu orang, meskipun antrean kendaraan terbagi menjadi dua baris, yakni kendaraan roda dua dan roda empat.

Kondisi tersebut dinilai memperlambat proses pengisian dan membuat antrean semakin panjang. Masyarakat yang hanya ingin mengisi BBM untuk kebutuhan sehari-hari akhirnya harus menghabiskan banyak waktu di SPBU.

Keluhan serupa disampaikan,Yudi 40 tahun , warga Air Itam. Ia mengaku kesulitan mendapatkan Pertalite sehingga akhirnya memilih membeli Pertamax demi menghindari antrean yang dapat menghabiskan waktu berjam-jam.

“Sulit sekali mendapatkan Pertalite. Daripada harus ikut antrian seharian, terpaksa saya membeli Pertamax, meskipun mobil saya jenis LCGC,” ujar Yudi dengan nada kesal.

Menurutnya, pilihan tersebut terpaksa diambil agar aktivitas sehari-hari tidak terganggu oleh antrean BBM yang tidak menentu.

Masyarakat Menunggu Langkah Nyata Pemerintah,Berulangnya persoalan ini menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap pola pengawasan dan distribusi Pertalite di SPBU. Sidak memang penting sebagai bentuk pengawasan, tetapi masyarakat membutuhkan hasil nyata yang dapat dirasakan setelah kegiatan tersebut selesai.

Pemerintah daerah bersama pihak kepolisian, pengelola SPBU, dan pihak terkait perlu mencari langkah yang lebih efektif, mulai dari pengawasan yang berkelanjutan, penertiban praktik pembelian berulang yang melanggar ketentuan, hingga evaluasi pelayanan pengisian BBM di lapangan.

Selain itu, masyarakat juga berharap ada mekanisme pengawasan yang konsisten agar konsumen yang membeli BBM untuk kebutuhan pribadi tidak terus-menerus dirugikan oleh panjangnya antreian

Pertanyaan yang kini mengemuka di tengah masyarakat Bangka Belitung adalah apakah sidak yang berulang kali dilakukan akan diikuti tindakan berkelanjutan, atau justru antrean panjang Pertalite akan tetap menjadi rutinitas yang harus diterima masyarakat setiap hari.

Masyarakat tidak hanya membutuhkan kehadiran pejabat di lokasi SPBU, tetapi juga solusi yang konkret, terukur, dan berkelanjutan. Sebab, BBM merupakan kebutuhan penting bagi aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari.

Kini masyarakat menunggu: kapan antrean Pertalite di Pangkalpinang benar-benar terurai, sehingga warga tidak lagi harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM. (haris).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.