Air PDAM Tirta Pinang Berulang Kali Mati, Konsumen Keluhkan Lambannya Solusi Pemerintah

oleh -452 views
oleh

PANGKALPINANG, — Gangguan distribusi air bersih Perumdam Tirta Pinang Kota Pangkalpinang kembali menuai keluhan masyarakat. Persoalan yang disebut warga berulang kali terjadi, bahkan hampir setiap bulan sepanjang tahun, menimbulkan keresahan, terutama bagi konsumen yang sangat bergantung pada layanan air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Keluhan ini semakin terasa di tengah musim kemarau, ketika ketersediaan air menjadi kebutuhan yang semakin sulit dipenuhi. Warga yang terdampak terpaksa membeli air dari pemasok swasta dengan harga yang tidak sedikit.

Berdasarkan keterangan Konsumen harga air untuk satu tedmon berkapasitas 1.000 liter berkisar antara Rp150.000 hingga Rp180.000. Biaya tersebut tentu menjadi beban tambahan bagi rumah tangga, terlebih ketika gangguan distribusi berlangsung berulang kali.

“Kalau air tidak mengalir, kami terpaksa membeli air. Untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah berat, belum lagi kebutuhan lainnya,” keluh warga.(27/06/2026).

Dalam pemberitahuan resmi Perumdam Tirta Pinang tertanggal 24 Oktober 2026, perusahaan menyampaikan bahwa permukaan air baku Kolong Pedindang berada di bawah batas minimal pemompaan pada pukul 15.30 WIB. Kondisi tersebut menyebabkan distribusi air bersih dihentikan sementara.

Selain persoalan sumber air baku, perusahaan juga menyampaikan adanya pekerjaan perbaikan kebocoran pipa berdiameter 400 milimeter di Jalan Pahlawan 12, tepatnya di persimpangan SD Negeri 42.

Wilayah yang disebut terdampak meliputi Kecamatan Rangkui, Gerunggang, Gabek, Girimaya, dan Pangkalbalam.

Penjelasan tersebut menjadi informasi penting bagi pelanggan. Namun, masyarakat berharap persoalan yang berulang ini tidak hanya ditangani melalui pemberitahuan penghentian distribusi dan perbaikan ketika gangguan sudah terjadi.

Warga mempertanyakan langkah jangka panjang yang disiapkan manajemen Perumdam Tirta Pinang agar pasokan air bersih dapat berlangsung lebih stabil dan tidak terus-menerus membebani konsumen.

 

Terlebih, masyarakat menyoroti kondisi kepemimpinan perusahaan yang menurut informasi mereka telah hampir dua tahun dijalankan oleh pejabat berstatus Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur. Kondisi tersebut diharapkan tidak menjadi penghambat dalam pengambilan keputusan strategis untuk memperbaiki pelayanan.

Karena itu, Pemerintah Kota Pangkalpinang selaku pemerintah daerah diharapkan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen, infrastruktur, ketersediaan air baku, serta rencana penanganan gangguan distribusi secara berkelanjutan.

Warga Kesulitan Beribadah dan Memenuhi Kebutuhan Rumah Tangga

Dampak gangguan air bersih bukan sekadar persoalan kenyamanan. Bagi masyarakat, air merupakan kebutuhan mendasar untuk memasak, mandi, mencuci, membersihkan rumah, hingga beribadah.

Warga mengaku kesulitan ketika air tidak mengalir, bahkan untuk mengambil air wudu sebelum melaksanakan salat. Mereka juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air galon seharga sekitar Rp5.000 per galon.

Jika kebutuhan air untuk satu rumah tangga harus dipenuhi dengan membeli banyak galon, pengeluaran tersebut tentu semakin memberatkan.

Kondisi ini dirasakan semakin sulit oleh ibu-ibu rumah tangga yang setiap hari harus memastikan ketersediaan air untuk seluruh anggota keluarga.

“Air ini kebutuhan pokok. Mau salat saja susah kalau tidak ada air. Kalau harus membeli air galon terus, berapa galon yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga sampai air kembali mengalir?” ungkap warga.

Air Sumur Tidak Menjadi Solusi bagi Warga Tertentu

Bagi sebagian warga di kawasan Lintas Timur, termasuk kawasan Zikri Residen dan Kelurahan Selindung, mengandalkan air sumur juga bukan pilihan yang mudah.

Menurut keterangan warga, air sumur di kawasan tersebut memiliki kualitas yang kurang layak digunakan untuk kebutuhan rumah tangga karena berwarna kekuningan, mengandung karat, dan tampak berminyak.

Akibatnya, ketika pasokan Perumdam Tirta Pinang terhenti, warga tidak memiliki banyak alternatif selain membeli air dari pemasok lain.

Atas kondisi tersebut, masyarakat berharap pemerintah daerah bersama Perumdam Tirta Pinang dapat menyiapkan langkah darurat berupa suplai air bersih menggunakan mobil tangki atau sarana distribusi lainnya ke kawasan yang terdampak.

Warga menilai bantuan suplai air sangat diperlukan selama gangguan berlangsung, terutama bagi masyarakat yang tidak memiliki sumber air alternatif yang layak.

Pemerintah Daerah Diminta Hadir dengan Solusi Nyata

Masyarakat berharap Pemerintah Kota Pangkalpinang tidak hanya menerima laporan dan menyampaikan penjelasan, tetapi juga memastikan adanya langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan pelayanan air bersih.

Evaluasi terhadap jaringan perpipaan, kebocoran, kapasitas produksi, ketersediaan sumber air baku, serta pola distribusi dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh.

Selain itu, masyarakat mengharapkan adanya rencana penanganan jangka pendek, menengah, dan panjang yang disampaikan secara terbuka kepada pelanggan, sehingga warga mengetahui langkah yang sedang ditempuh dan perkiraan pemulihan pelayanan.

Transparansi informasi mengenai penyebab gangguan, wilayah terdampak, estimasi pemulihan, serta pelaksanaan suplai air darurat juga dinilai penting agar masyarakat tidak terus berada dalam ketidakpastian.

 

Di tengah keluhan tersebut, masyarakat juga menyampaikan harapan kepada anggota DPRD Kota Pangkalpinang yang berdomisili di Kelurahan Selindung agar turut memperjuangkan kebutuhan warga.

Secara khusus, warga berharap Bapak Daryanto dan Bapak Pasal dapat membantu menyampaikan aspirasi masyarakat kepada Pemerintah Kota Pangkalpinang dan pihak Perumdam Tirta Pinang.

Masyarakat mengharapkan para wakil rakyat dapat mendorong evaluasi pelayanan, meminta penjelasan mengenai langkah penanganan gangguan berulang, serta memperjuangkan ketersediaan suplai air bersih bagi kawasan yang paling terdampak.

Warga berharap persoalan ini mendapat perhatian serius karena air bersih bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan kebutuhan dasar yang menyangkut kesehatan, kebersihan, dan kelayakan hidup masyarakat.

“Harapan kami sederhana, pemerintah dan pihak PDAM serius mencari solusi. Jangan sampai masyarakat terus-menerus menanggung beban setiap kali air tidak mengalir. Kami juga berharap wakil rakyat, khususnya Pak Daryanto dan Pak Pasal, dapat membantu memperjuangkan aspirasi warga Selindung,” harap masyarakat.

 

Gangguan distribusi air yang terjadi berulang kali seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah daerah dan manajemen Perumdam Tirta Pinang untuk melakukan pembenahan secara serius.

Masyarakat tidak hanya membutuhkan pemberitahuan ketika distribusi dihentikan, tetapi juga kepastian mengenai langkah perbaikan, penanganan darurat, dan upaya pencegahan agar persoalan serupa tidak terus berulang.

Sementara itu Miko 30 tahun warga komplek Zikri residen Selindung mengeluhkan pelayanan PDAM Tirta pinang, setiap bulan selalu ada masalah entah pipa karat, rusak bocor dan lain sebagainya

kami setiap bulan bayar, kalau telat di denda, tapi pelayanan selalu begini sangat mengecewakan, kami berharap ada solusi saat ini.

Senada dengan Milko warga lain juga udin 50 tahun sangat kesal dengan keadaan begini berulang kali, kesian para ibu ibu dan anak kecil, kita kesulitan saat mandi cuci dan ke WC hari beli air galon”ungkapnya kesal.

Upaya konfirmasi pada Walikota Pangkalpinang dan Ketua DPRD masih menunggu jawabannya. (Yudi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.